Wednesday, February 10, 2010

UMROH Bersama Ust. Dr. H. Andian Parlindungan, MA

Insya Allah pada tanggal 13 Maret 2010, NURANI Travel bekerjasama dengan Kindai Tour & Travel akan melaksanakan Umroh bersama dengan Ust. Dr. H. Andian Parlindungan, MA selama 9 hari. (Mohon Maaf dibrosur ada kesalahan tanggal keberangkatan, di brosur tertulis tgl 12 Maret 2010 tetapi yang benarnya adalah tgl 13 Maret 2010)
Perjalanan Umroh ini insya Allah akan menggunakan pesawat Garuda Air line, berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta langsung menuju Jeddah kemudian ke Madinah, lalu setelah itu baru ke Makkah. Biaya perjalanannya adalah USD. 1525 untuk sekamar berempat. USD. 1575 untuk sekamar bertiga dan USD. 1675 untuk sekamar berdua.


Di Jeddah akan menggunakan Hotel Grand Al Saha, di Madinah: Hotel Anwar Movenpick dan di Mekkah: Hotel Dar Al Firdous. 
Info lebih lanjut bisa menghubungi sdr. Zulkifli Hazmar ( 0813 1480 9463 atau 0817 000 6010) atau bisa juga menhubungi langsung ke PT. Kindai Tour & Travel.
Semoga perjalanan Umroh ini di ridhoi oleh Allah SWT dan mendapatkan rahmat serta pahala di sisi-Nya. Amin ya Robbal 'alamin.
Bahagia Dunia Akhirat.

Wednesday, August 27, 2008

HIJRAH menuju FITRAH

Nurani Spiritual Training adalah sebuah pelatihan yang dikembangkan berdasarkan pendekatan ketauhidan da pendekatan misi kekhalifahan manusia dimuka bumi.
Pada dasarnya setiap manusia punya hak untuk hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Namun pada kenyataannya tidak semua manusia mampu mewujudkannya disebabkan cara pandang yang salah terhadap kehidupan.

Nurani Spiritual Training hadir dalam upaya memberi pencerahan kepada para peserta training untuk mampu mengubah kehidupannya kepada keadaan yang lebih baik, sejalan dengan pesan Al-Qur'an dan Al-Hadits.

Nurani Spiritual Training mengantarkan para peserta menggapai kebermaknaan hidupnya melalui kekuatan keinginan, kekuatan keyakinan, kekuatan sikap dan tindakan serta kekuatan do'a.

Dengan mengikuti pelatihan ini setiap peserta diharapkan mengalami perubahan dalam kehidupannya sesuai misi kekhalifannya.

Dengan kata lain "HIJRAH menuju FITRAH"


Wednesday, August 20, 2008

NURANI Spiritual Training Angkatan ke-2

Training Angkatan ke-2 akan diadakan

Hari/Tanggal : Sabtu / 23 Agustus 2008

Tempat : Hotel Ambara – Jakarta

Tema : "THE EXCELLENT PERSONALITY"



Ini Brosurnya:
















Materi yang akan di sampaikan pada pelatihan kali ini a.l :

  • Bagaimana kita dapat mewujudkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat

  • Meningkatkan kualitas hidup

  • Kiat 2 menjadi Pribadi yg Excellent

  • Dahsyatnya kekuatan Doa



Beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan selain pemberian Materi a.l:

  • Sholat wajib berjamaah

  • Zikir & Doa

  • Renungan (Muhasabah)

  • Diskusi

  • Games

Friday, June 20, 2008

Ikhlash dan Sabar didalam memecahkan masalah

Juni 18, 2008 oleh sibuki

Rabu kali ini diasuh oleh Ust. H. DR. Andian Parlindungan. Beliau memulai, bahwa semua manusia diberi fitrah oleh Allah. Fitrah dalam arti kesucian. Semua manusia awalnya adalah suci, bersih hatinya, pun dalam aqidahnya. Manusia mengakui bahwa Allah adalah tuhannya (Al ‘Araf:172). Dan di dalam hati yg suci dan bersih, ada kedekatan diantara manusia dan Allah.
Tapi makin lama manusia berbuat dosa, sehingga hatinya tertutup oleh cahaya Ilahi dan hidayah. Mereka menjadi jauh dari Allah. Itulah sebabnya Allah memerintahkan hambanya untuk menjalankan apa yg diperintahkan, yg wajib ataupun sunnah. Ibadah2 itu menyebabkan hati kembali kepada fitrah.
Ibadah sholatlah yg paling efektif dalam mensucikan hati. Ibarat sholat sebuah madrasah/sekolah, gurunya adalah Allah dan kita sebagai siswanya. Allah mengajarkan filosofi sholat, diantaranya; sifat tawadhu/rendah hati dan tdk angkuh, sabar, tawakal, ketenangan jiwa dan doa serta kesaksian. Seseorang yg sholat, jiwanya pasti tenang, ihklas, tdk tergesa2, tdk sombong, tdk berkeluh kesah, tdk stress. Seseorang yg sholat hatinya, hidupnya dan matinya hanya untuk Allah. Seseorang yg sholat, jiwanya akan terbentuk kesabaran keikhlasan dan kejujuran. Seseorang yg sholat, walaupun ditimpa masalah seberat apapun, dirinya tetap istiqomah didalam jalan Allah, jalan yg diridhoi Allah. Mereka ridho atas ketetapan Allah, ridho akan takdir Allah.
Rasulullah pernah bersabda; seseorang yg cerdas adalah seseorang yg selalu mempersiapkan kehidupan setelah kematiannya……
Diakhir ceramahnya, kita diajak bermuhasabah, bermunajat kepada Allah dan memohon ampun. Sesungguhnya dengan keyakinan akan permintaan kita, Allah akan mengabulkannya. Allah tergantung prasangka hambaku…

dimuat di:
http://sibuki.wordpress.com/2008/06/18/ikhlash-dan-sabar-didalam-memecahkan-masalah/

Monday, July 02, 2007

Meraih Optimisme dengan Muhasabah

Dialog Jumat Republika - 08 April, 2005


DR Andian Parlindungan


Apa jadinya hidup seseorang bila jiwanya tidak pernah diisi dengan perenungan dan introspeksi? Niscaya orang tersebut tidak akan dapat membedakan hal yang baik dan buruk bahkan lebih celaka lagi, dia tidak bakal merasakan betapa bermaknanya hidup.
Bagi DR Andian Parlindungan, sangatlah penting dalam hidup ini senantiasa diwarnai dengan proses perenungan (muhasabah). Karena menurutnya, dengan perenungan itu selain bisa menjalin hubungan yang lebih erat kepada Allah SWT, juga nantinya manusia akan sampai pada satu titik untuk menjadi hamba yang beriman dan bertakwa.
"Jika seseorang mengarungi kehidupan ini tanpa proses muhasabah, niscaya orang tersebut akan memahami apa-apa tindak laku dan perbuatan yang salah dan yang benar," tutur Andian beberapa waktu lalu.
Dan kegiatan muhasabah kini menjadi keseharian dosen tetap Universitas YARSI Jakarta itu. Tak hanya dilakukan seorang diri, namun juga bersama para jamaah di masjid maupun di rumah-rumah.
Melalui muhasabah, pengisi acara Kuliah Subuh di salah satu televisi swasta ini mencoba mengajak umat untuk berintrospeksi diri. Andian menjelaskan, dalam muhasabah ada proses taqqali (mengosongkan pikiran). Untuk beberapa saat, pikiran dikosongkan dari sisi kehidupan materialis untuk kemudian 'diisi ulang' dengan perenungan.
"Setelah mencapai tahap tersebut maka seseorang akan dapat ber-tajjali atau tahap seseorang yang sudah dapat memahami nilai-nilai ketuhanan," jelasnya lagi. Dalam proses introspeksi, relung hati seseorang sekaligus diisi dengan dzikir. Ber-dzikir menyebut nama-nama Allah, dan menikmati dengan segenap jiwa. "Namun saya lebih menekankan supaya dzikir benar-benar dinikmati dalam hati serta dihayati. Selanjutnya, penghayatan tersebut harus tercermin dalam perilaku sehari-hari."
Kegiatan dzikir dan muhasabah sudah dijalani pria kelahiran Medan 12 Nopember 1967 ini sejak tahun 2000 dan mencapai puncaknya tahun 2003 lalu. Bersama para jamaah, mereka kadang ber-muhasabah di alam terbuka, menyatu dengan ciptaan Allah yang lain.
Selain itu, kegiatan dzikir dan muhasabah pun sering pula berlangsung secara door-to-door. Ini dilakukan karena tuntutan keadaan. ''Saat ini banyak saudara muslim/muslimah yang tidak punya cukup waktu luang mengikuti kegiatan keagamaan di hari-hari biasa,'' ujarnya. Dengan begitu, dia memutuskan membantu mereka dengan bersilaturahmi dari rumah ke rumah dan mengisi kegiatan pengajian.
Lebih jauh diutarakan, muhasabah amatlah penting bagi upaya peningkatan kualitas intelektual, spriritual, serta mengasah emosional. Di dalam proses dzikir dan muhasabah, para jamaah diajak untuk berpikir positif. Ada alasan yang mendasarinya.
Di beberapa literatur buku yang pernah dia baca, menurutnya telah banyak terjadi pergeseran nilai. Ketika membahas mengenai positive thinking, beberapa penulis mencoba menggunakan medium alam bawah sadar. Misalnya meminta kepada alam bawah sadar jika ingin sukses atau sembuh dari penyakit tertentu yang diderita.
Namun Andian menganggapnya sama saja dengan mensejajarkan alam bawah sadar dengan Tuhan. Sehingga dalam proses muhasabah, dia mencoba mengajak orang untuk mencapai positive thinking dengan membangun kesadaran kemanusiaan. "Kalau kita tidak bergantung sepenuhnya pada Allah SWT, tidak punya komitmen kehambaan kepada Allah, kita tidak punya arti hidup," tandasnya kemudian.
Jadi intinya adalah bagaimana membangun kesadaran kemanusiaan melalui proses perenungan. Dan diharapkan dari proses itu akan tumbuh kesadaran yang luar biasa untuk kemudian membangun semangat kepasrahan. Suami dari Ermi Sahidah ini mengaku pernah mengalami kepasrahan yang sangat mendalam. Berasal dari keluarga yang prihatin di Medan, sebagian besar hidupnya lantas dilalui dengan kerja keras, banyak merenung dan juga berdzikir.
Pada usia lima tahun, sang ayah meninggal dunia. Sebagai putra sulung dari empat bersaudara, Andian mau tak mau harus mengambil peran sebagai kepala rumah tangga. Setelah lulus SD, ibundanya menginginkan putranya tersebut melanjutkan pendidikan di pondok pesantren. Maka dipilihlah ponpes Gontor di Ponorogo, Jawa Timur.
Delapan tahun lamanya menimba ilmu agama di ponpes tersebut untuk selanjutnya dia memutuskan kembali ke kampung halaman dan kuliah di IAIN Medan. Di sinilah Andian mengalami perjuangan hidup. "Saat kuliah, saya tidak mendapatkan fasilitas layaknya yang dinikmati mahasiswa lain dari orangtuanya," dia menuturkan.
Tidak ada jalan lain kecuali harus bekerja sampingan untuk dapat membiayai kuliah dan juga ketiga adiknya. Ayah dari dua putra dan putri ini pernah membuka kursus bahasa Arab, menjual pakaian secara dari rumah ke rumah dan bekerja sebagai agen di perusahaan asuransi.
"Ketika saya dituntut untuk lebih banyak berbuat, saya lantas melaluinya bersama proses perenungan," sambungnya. Dari situlah dia melihat segala perjuangan hidup yang dilalui harus disyukuri sebagai suatu pembelajaran dan membuatnya lebih bisa menghargai orang lain serta hidup ini.
Begitulah kemudian pada setiap kesempatan ber-muhasabah, dia selalu merasa ada sesuatu yang dicari oleh banyak orang seperti juga yang dicarinya. Lama kelamaan, tumbuh satu kesimpulan bahwa semua orang selama hidupnya pasti mencari 'sesuatu'. Dan sesuatu itu adalah kebermaknaan. "Nah bagi saya, tujuan dapat dicapai dengan proses perenungan dan dzikir."
Yang menarik dari sekian lama melaksanakannya, Andian mendapati ternyata kegiatan itu bisa menjadi sebuah terapi kejiwaan. Di saat seseorang merasakan kecemasan, waswas, tidak berarti, dan perasaan negatif lainnya, muhasabah dapat menumbuhkan semangat baru.
Namun semuanya harus dimulai dari kesadaran (titik nol). Segala yang dimiliki bukanlah sesuatu yang abadi sehingga seseorang akan menyadari bahwa hidup tanpa mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak dzikir dan melakukan proses perenungan, tidak akan berarti.
Dijelaskan lagi, beberapa orang memutuskan kembali ke jalan Allah setelah tertimpa masalah. Ada juga yang kembali ke jalan Allah karena memperoleh nikmat. Tapi ada juga orang yang diberi cobaan terus menerus, tidak juga tersadar.
"Pada kaitan itu, ada satu kata kunci. Setiap orang di dalam hatinya pasti punya keinginan bahwa hidupnya harus bermakna. Hanya saja ketika berhadapan dengan proses-proses, dia tidak konsisten dan istiqomah," Andian menambahkan.
Ketidak-istiqomah-an inilah yang kemudian mendorong seseorang berbuat sekehendak hatinya. Maka tak mengherankan timbul satu ironi. Di saat lantunan dzikir dan kegiatan agama tidak henti dilakukan, berbarengan pula negara ini tak lepas dari masalah kemerosotan akhlak.
Fakta tersebut amatlah memprihatinkan. "Kita baru sampai pada taraf pengetahuan tentang agama, belum sampai pada proses penghayatan apalagi pengamalan. Islam itu kan pada intinya kepasrahan total, berserah diri. Jadi bila belum sampai pada pengamalan nilai-nilai, berarti Islam kita belum kaffah."
Oleh sebab itu, Andian yang juga pembimbing ibadah haji dan umroh, telah berencana meluncurkan album Muhasabah sebelum bulan Ramadhan mendatang. Lewat album ini, dia coba mengingatkan agar umat terus berupaya meningkatkan kualitas hidup melalui kedua kegiatan mulia tadi.
Tujuan dari dzikir dan muhasabah, adalah agar seseorang mencapai ketenangan. Ketenangan akan diperoleh jika tumbuh kesadaran. "Karena kesadaran inilah yang dapat merajut kembali hubungan dengan Allah SWT, sesama manusia, dan lingkungan," ujarnya.


Biodata

Nama lengkap : Andian Parlindungan
Kelahiran : Medan, 12 Nopember 1967
Istri : Ermi Saidah
Putra/putri : Carissa Rafa Andiesa (2 tahun) Rakhsanda Andi Aziz (3 bulan)
Pendidikan : S1-IAIN Sumatera Utara tahun 1994, S2-IAIN Jakarta tahun 1997
Kegiatan :
Dosen tetap Fak Kedokteran dan Ekonomi Universitas Yarsi Jakarta
Pembimbing Ibadah Haji dan Umroh
Mengisi acara Kuliah Subuh Indosiar sejak 1999
Mengisi acara Cahaya Hati TPI
Mengisi acara Kuliah Subuh SCTV sejak 2003
Mengisi acara Dialog Jumat RRI

Hati Yang Suci

Oleh: Drs. Andian Parlindungan, MA


Perkataan "hati" dalam Alquran disebut qalb, yaitu sesuatu yang tidak tetap, berbalik kembali, dan berubah-ubah. Kelabilan dan perubahan hati disebabkan ada dua kekuatan yang selalu tarik menarik di dalamnya, yakni iman dan kufur, kebaikan dan keburukan, taat dan ingkar, dst.
Hati adalah elemen terpenting dalam diri manusia, yang menentukan kemuliaan atau kehinaannya. Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal darah. Apabila segumpal darah itu baik, maka seluruh jasad menjadi baik. Namun, apabila segumpal darah itu rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, sesungguhnya segumpal darah itu adalah hati".(HR Bukhari).
Hati yang suci adalah hati yang dipenuhi dengan iman, hidayah, dan cahaya Ilahi. Di dalamnya terdapat luapan rindu, cinta, ketaatan, dan kepatuhan kepada Allah. Ia merupakan tempat bersemayam nilai-nilai kebaikan, seperti tawakal, sabar, qana'ah (puas), syukur, istiqamah (konsisten), tawadu' (rendah hati), santun, murah hati, pemaaf, husnuzzan (baik sangka), dan amanah (terpercaya). Ia terbebas dari belenggu kehinaan dan kenistaan, karena padanya tidak terdapat kekufuran, kemunafikan, kesombongan, tamak, rakus, hasad, dengki, riya, ujub (bangga terhadap diri), bakhil, khianat, dan cinta dunia.
Untuk mencapai kesucian, hati harus mengalami proses tazkiyah (pensucian) agar hati tidak diselimuti sifat-sifat tercela yang membuat hati menjadi keras (QS 16.22), buta (QS 22:46), sakit (QS 2:10), dan mati (QS 2:7). Apabila hati telah keras, buta, sakit, dan mati, maka hati tidak akan dapat menyerap ilmu dan hidayah Allah. Aktivitas tubuh menjadi pasif, tidak efektif, dan sia-sia. Sebab, hati tidak dapat memantulkan cahaya Ilahi dan tidak dapat berperan menjadi sumber inspirasi dan sosial kontrol bagi kerja tubuh.
Manusia yang memiliki hati rusak, akan menjadi manusia yang kehilangan martabat dan jati dirinya. Ia akan menjadi budak nafsu yang cenderung melakukan apa saja yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Ia akan merampas hak orang lain, menindas, membunuh, memprovokasi, menghalalkan segala cara untuk mewujudkan kehendaknya, dan bahkan, ia menjadi manusia yang menebar penyakit dan bencana bagi penduduk bumi.
Ada tiga proses tazkiyah (pensucian) yang harus kita lakukan agar hati menjadi suci. Pertama, muraqabah, yakni menumbuhkan keyakinan dan kesadaran dalam hati bahwa kita berada di bawah pengawasan Allah setiap saat. Allah mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati dan melihat setiap gerak dan langkah kita. Kedua, muhasabah, yakni introspeksi diri. Kita harus mampu melakukan penyadaran terhadap diri kita melalui penghitungan amal dan perbuatan. Pada tahap ini, kita harus memperbanyak tobat dan ampunan kepada Allah, serta berusaha untuk meningkatkan kualitas amal dan perbuatan kita.
Ketiga, mujahadah, yakni sebuah perjuangan spiritual (rohani) dengan mengerahkan segala potensi dalam rangka menjalankan tugas-tugas pengabdian kita kepada Allah, serta menyingkirkan setiap hambatan-hambatan yang berusaha menghalangi pengabdian kita kepada-Nya. Pada tahap ini, dibutuhkan istiqamah, ketekunan, dan kesabaran.


Diterbitkan oleh Republika Online, Hak Cipta � PT Abdi Bangsa 1998

http://www.informatika.org/~rinaldi/Koleksi/Artikel/Hati%20yang%20Suci.htm



Tuesday, August 01, 2006

Harga Segelas Air

Suatu hari, di istananya, Khalifah Harun al-Rasyid merasa haus. Ia memanggil seorang pengawalnya untuk mengambilkan segelas air. Dengan santun pengawal itu menyerahkan segelas air kepada Harun al-Rasyid. Sesaat sebelum Khalifah meminumnya, sang pengawal bertanya:
"Khalifah, bagaimana seandainya Tuan Khalifah tidak menemukan segelas air padahal dalam keadaan haus? Sudah dicari kesana kemari namun tidak ditemukan. Tiba-tiba ada seseorang yang mengantarkan segelas air pada Tuan Khalifah namun ia meminta agar air ini di barter (ditukar) denganb separuh dari istana Tuan. Bagaimana Tuan?"
Harun al-Rasyid diam sejenak. Ia berfikir dan merenung. Kalau ia tak merelakan separuh dari istananya untuk ditukar dengan segelas air, maka ia akan kehilangan nyawa. Pilihannya hanya satu, setngah istana yang megah ini atau nyawa? Akhirnya dengan sangat terpaksa Khalifah menyatakan bahwa ia memilih segelas air daripada kehilangan nyawanya.
"Kalau demikian, silakan Tuan minum" pengawal mempersilakan dengan hormat.
Harun al-Rasyid kemudian meminum air itu perlahan sampai semuanya masuk membasahi tenggorokannya. Setelah itu, Harun al-Rasyid mengembalikan gelas yang kosong pada pengawalnya.
Sang pengawal menerima gelas itu dengan penuh hormat. Sejurus kemudian ia bertanya lagi, "Tuan, bagaimana jika air yang Tuan minum tadi tidak dapat dikeluarkan berhari-hari? Sudah dicari tabib (dokter) kemana-mana tapi tidak bertemu. Sampai akhirnya ada seorang laki-laki yang mengatakan mampu mengeluarkan air tersebut dengan syarat Tuan membayarnya dengan setengah dari istana ini. Bagaimana Tuan?
Kali ini, Harun al-Rasyid benar-benar terdiam. Tadi, ia telah kehilangan setengah istananya karena menginginkan segelas air. Sekarang ia harus kehilangan setengahnya lagi untuk mengeluarkan air itu. Bagaimana mungkin aku bisa kehilangan seluruh kekayaanku hanya karena segelas air? Tapi, apa manfaatnya istana yang luas ini jika aku kehilangan nyawaku?
Harun al_rasyid benar-benar bingung. Namun dengan tenang ia mengatakan, "Ya, akan kuberikan setengah istana ini untuk siapapun yang bisa mengeluarkan segelas air yang telah ku minum."
Sang pengawal, dengan santun berkata, "Tuan, nikmat Allah ternyata begitu besar. Seluruh istana Tuan ini sesungguhnya tidak lebih berharga dari segelas air pemberian Allah."
Subhanallah...
Saudara ku, semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang senantiasa bersyukur dengan segala nikmat pemberian-Nya, walau sekecil apapun ia dalam pandangan kita. Ingatlah, terlalu banyak nikmat Allah yang sudah tercurah buat kita. Wallahu a'lam

M. Iqbal Irham

MEMBANGUN KECERDASAN SPIRITUAL

  1. Apakah yang dimaksud dengan kecerdasan spiritual menurut pemikir barat?
  2. Bagaimanakah konsep Islam tentang kecerdasan spiritual?
  3. Apakah perbedaan mendasar antara konsep kecerdasan spiritual Islam dengan Barat?
  4. Apakah perbedaan kecerdasan spiritual dengan kecerdasan intelektual dan emosional?
  5. Bagaimana aspek spiritual dalam ibadah (rukun Islam) dan kegiatan sosial dapat dijelaskan?
  6. Mengapa sebagian orang hanya cenderung kepada kecerdasan intelektual dan atau emosional saja atau hanya kepada kecerdasan spiritual saja?
  7. Mengapa kecerdasan intelektual dan emosional harus diimbagi dengan kecerdasan spiritual?

    Kecerdasan spiritual, menurut Ian Marshall dan Danah Zohar, adalah kecerdasan untuk memahami dan menangkap makna dan menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas, atau suatu kecerdasan untuk menilai potensi dan kemampuan yang luar biasa untuk memahami hakikat bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna daripada orang lain. Dalam riset dua tokoh tersebut ditemukan bahwa terdapat apa yang disebut God-Spot dalam otak manusia yang merupakan pusat spiritual yang terletak di antara jaringan syaraf dan otak. Inilah yang mengikat pengalaman hidup manusia menjadi sesuatu yang bermakna.
    Dalam Islam kecerdasan spiritual, menurut Ary Ginanjar Agustian, adalah kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui pemikiran dan langkah-langkah yang bersifat fitrah, menuju manusia yang seutuhnya (hanif) dan memiliki pemikiran Tauhidi (integralistik), serta berprinsip “hanya karena Allah”. Dalam Islam inti kecerdasan spiritual terdapat dalam ajaran tentang keimanan (Rukun Iman) dan ajaran tentang ibadah ritual (Rukun Islam). Semakin tinggi kualitas penghayatan, pemahaman, dan pengamalan Rukun Iman dan Rukun Islam, maka semakin tinggi pula kecerdasan spiritual seseorang. Menurut ahli sufi di dalam diri manusia ada “ruang kosong,” yang harus kita isi dengan hal-hal yang baik. Jika kita tidak mengisinya dengan hal-hal yang baik, maka ruang kosong itu, otomatis akan diisi dengan hal-hal yang buruk”. Dalam sebuah roda, ruang kosong adalah yang menjadikannya sebagai roda. Metafor ini bisa dipakai untuk manusia, “ruang kosong” itulah yang menjadikannya berarti secara spiritual sebagai manusia. Ruang kosong inilah agaknya yang disebut Gid-spot menurut teeori kecerdasan spiritual Barat tersebut.
    Perbedaan mendasar antara teori kecerdasan spiritual (SQ) Barat dengan Islam adalah: SQ Barat tidak menjangkau ketuhanan, dan tidak bersifat transendental. Pembahasannya baru sebatas tingkat biologi dan psikologi semata, sementara SQ dalam Islam jelas berkaitan langsung dengan Ketuhanan dan bersifat transendental, jadi tidak sekedar pembahasan dalam ruang lingkup biologi dan psikologi saja. Karena itu pembahasan SQ Barat mengalami kebuntuan. Misalnya dalam teori tentang God Spot sebagai pusat spiritual manusia menurut Barat terdapat suara hati. Akan tetapi penulis Barat tidak mampu menjelaskan apa saja jenis-jenis suara hati tersebut. Dalam Islam God Spot yang di dalamnya terdapat suara hati itu dapat dijelaskan, misalnya dengan melihat penjelasan makna-makna istilah “hati” yang dalam agama Islam digambarkan dengan berbagai nama, qalb, fu`ad, lubb, sirr, `aql, dan sebagainya.
    Kecerdasan emosional adalah kecerdasan yang berkaitan dengan kemampuan orang mengendalikan suasana mental dan emosionalnya dan menyalurkannya secara positif dalam interaksi dengan manusia lain di sekelilingnya. Kecerdasan emosional, dalam Islam, tekandung dalam ajaran tentang Akhlak kepada sesama manusia. Terdapat beberapa perbedaan penting antara kecerdasan spiritual (SQ) dengan kecerdasan emosional (EQ), yaitu: 1) SQ bersifat transenden karena menyangkut hubungan makhluk dengan Khaliknya, sedangkan EQ bersifat imanen, karena menyangkut hubungan dengan sesama manusia; 2) SQ berorientasi ke akhirat dan bersifat abadi, sedangkan EQ berorientasi keduniaan dan bersifat temporer; 3) SQ mendukung kesuksesan di akhirat, sedangkan EQ mendukung kesuksesan seseorang di dunia.
    Ibadah-ibadah ritual yang tercakup dalam Rukun Islam jika dilaksanakan secara konsekuan dengan pemahaman dan penghayatan akan menghasilkan kecerdasan spiritual. Sementara itu amal-amal atau kegiatan sosial juga akan menghasilkan kecerdasan spiritual jika dilakukan secara ikhlas dengan niat hanya karena Allah dan memandang nya semata-mata sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Salah satu contoh Ibdah ritual adalah Ibadah puasa. Dalam sebuah Hadits Qudsi Allah berfirman, “Puasa adalah untuk-Ku semata, dan Akulah yang menanggung pahalanya”. Hadits ini mengisyaratkan bahwa puasa secara esensial hampir sepenuhnya bersifat rohani, menyangkut hubungan spiritual kita sebagai hamba dengan Allah SWT. Al-Qur’an menggambarkan maksud kewajiban puasa adalah agar kita menjadi takwa. Ketakwaan --yang berarti kita merasakan hadirnya Tuhan dalam hidup sehari-hari—yang kemudian mendorong kita untuk berempati terhadap mereka yang hidup dalam kekurangan adalah salah satu wujud kecerdasan spiritual itu.
    Kebanyakan manusia moderen, terutama di Barat terlalu cenderung mementingkan aspek kecerdasan intelektual dan emosional belaka. Mengapa demikian? Alasannya antara lain adalah karena manusia moderen meyakini bahwa potensi kecerdasan intelektual dan emosional inilah yang membawa keberhasilan dan kemajuan dalm hidup. Kebanyakan mereka mengukur keberhasilan hanya dari segi kebendaan/ materi semata. Sebagian dari mereka tidak menyadari bahwa kehidupan manusia bukan hanya kini dan di sini (duniawi), tetapi juga nanti dan di sana (akhirat). Sebaliknya terdapat pula orang-orang yang hanya cenderung kepada hal-hal spiritual dan memandang rendah hidup duniawi dan kebendaan.
    Jika seseorang hanya mementingkan kecerdasan intelektual dan emosional saja, maka lambat laun ia akan mengalami jalan buntu, sebab bagaimanapun pintarnya seseorang dan pandainya ia bergaul, tidak semua persoalan hidup mampu ia temukan jawabannya. Akal manusia mempunyai keterbatasan-keterbatasan, demikian pula relasi antara manusia dengan manusia lainnya. Pada akhirnya manusia dapat saja menjadi frustasi, cemas, tertekan, dan sebagainya. Sebaliknya jika seseorang hanya mementingkan zikir dan mengasah kecerdasan spiritual belaka, maka ia akan teralienasi dari lingkungan dan tertinggal dengan berbagai kemajuan yang telah dicapai oleh orang lain. Agar kualitas kehidupan kita benar-benar maksimal, baik untuk kepentingan dunia maupun akhirat, maka kecerdasan intelektual dan emosional perlu diimbangi dengan kecerdasan spiritual atau sebaliknya. Dalam sebuah hadits rasulullah SAW bersabda: “Bukanlah sebaik-baik kamu orang yang bekerja untuk dunianya saja tanpa akhiratnya, dan tidak pula orang-orang yang bekrjauntuk akhiratnya saja dan meninggalkan dunianya. Dan sesungguhnya, sebaik-baiknya kamu adalah orang yang bekerja untuk (akhirat) dan untuk (dunia).” (Al-Hadits)

    Kesimpulan
    Kecerdasan spiritual memungkinkan seseorang memaknai kehidupannya secara arif dan benarm sesuai dengan tuntunan Ilahi. Ia bersifat transenden. Sedangkan kecerdasan emosional menyangkut kemampuan dalam berinteraksi secara baik dengan sesama manusia, tetapi bersifat keduniaan dan temporer. Agar kehidupan manusia lebih bermakna baik di dunia maupun di akhirat kedua kecerdasan ini harus ada dalam setiap pribadi. Bila hanya mementingkan salah sau saja, maka akan lahir ketidakharmonisan dalam kehidupan.

    Khairul Fuad

Monday, July 31, 2006

SALAM PERSAUDARAAN


Kalau pada hari ini ada ajakan untuk menuju satu tujuan
itu adalah jalan menuju Allah.
Kalau pada saat ini hati kita tersentuh,
semoga itu pertanda bahwa
Allah Yang Maha Lembut (Al-Lathif ) sedang membelai hati kita.

Bukanlah hidup untuk berpetualang
Bukan pula ibadah untuk dunia
Namun ibadah, kehidupan dan kematian kita
hanyalah untuk Allah semata.
Dia adalah tujuan dari segala-galanya.

Islam mengajarkan untuk hidup lebih bermakna
yang berdasarkan nurani kehambaannya kepada Allah
Berbagi rasa dengan sesama dan mengabdi pada Pencipta
Dialah cahaya diatas cahaya
Yang Maha Menerangi dan Maha Menyayangi kita semua
Dialah Pencipta serta Penggenggam hati dan Jiwa kita

MASYARAKAT NURANI SPIRITUAL TRAINING


ØMenjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup.
ØMeneladani Rasulullah SAW dalam seluruh aspek kehidupan.
ØMenjunjung tinggi kasih sayang, kejujuran, kemandirian dan persaudaraan.
ØPenuh kreasi dan inovasi serta bertanggung jawab.
ØTerus-menerus melakukan perbaikan diri dan penyucian hati.

Indahnya Keikhlasan


Manusia hidup di dunia ini sesaat, maka kehidupan sesaat ini harus berarti. KH. Imam Zarkasyi pernah mengatakan:"Hidup sekali hiduplah yang berarti, berani hidup tidak takut mati, takut mati jangan hidup, dan takut hidup mati saja". Kita tidak akan pernah menggapai keberartian dalam hidup kita kecuali melalui perjuangan spiritual, karena tidak ada kebahagiaan tanpa perjuangan, tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan, dan tidak berarti sebuah pengorbanan kecuali didasari dengan keikhlasan. Ikhlas berarti memurnikan hidup ini semata-mata karena dan untuk Allah, dan hidup kita meliputi seluruh aspek, baik aspek ibadah, maupun seluruh aktivitas hidup secara keseluruhan. Keihklasan merupakan ruh dari hidup ini, dan hanya orang-orang yang ikhlaslah yang dapat merasakan indah dan berartinya hidup. Bahkan, hanya orang-orang yang ikhlaslah yang dapat merefleksikan rasa syukur yang sebenarnya dan setiap aktivitas hidup dan geraknya. Semoga Allah membimbing kita menjadi orang-orang yang ikhlas. Amin